Senin, 27 Januari 2014

Disaat Takdir, Tak Bisa Kita Pahami

Disaat Takdir, Tak Bisa Kita Pahami
Tidak ada yang bisa mengulang atas semua cerita yang telah dilewati, tidak ada yang bisa membantah atas semua takdir yang telah dilalui. Kita hanya bisa memilih apakah tetap melaluinya dengan rasa syukur selayaknya hamba yang bertaqwa, atau terus mengutuk diri akan nikmat yang terlewati.

Hidup adalah rangkaian ikhtiar demi ikhtiar, yang berawal dari sebuah tekad (azam) yang mulia tentunya, meski demikian tak selamanya ujung dari sebuah ikhitar berakhir pada kesuksesan. Ada ruang yang mesti kita sadari di sini, ruang di mana setiap ikhitiar tak dapat kita ketahui ujungnya, ruang yang benar – benar sangat gelap bagi kita semua. Ruang itu adalah kehendak Allah.

“dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya besok.” (QS. Luqman :34)

Keberhasilan, kesuksesan serta keselamatan adalah jalan yang memang mesti kita tuju, namun dalam hasilnya Allah jua lah yang menentukan. Dalam setiap usaha yang telah kita tempuh harus di akhiri dengan ruang pengharapan hanya kepada Allah. Di ruang pengharapan itu hanya ada satu cara menyikapinya yaitu dengan berdoa serta bertawakkal kepada Allah SWT. Mengapa? Sederhana saja. Karena Allah Maha Berkehendak. Ini semua menunjukkan bahwa ada perbedaan posisi kita selaku makhluk dan Allah selaku Khaliq.

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki”
(QS. Ar – Rad : 39)

Yang mesti kita pahami di sini adalah setiap Takdir yang dipilihnNya untuk kita, bukan semata karena Allah Maha Berkehendak tapi juga karena Allah Maha Tahu mana yang terbaik buat kita. Pada titik inilah kita sering keliru dalam menilai setiap takdir yang menghampiri. Dalam kaca mata kita takdir itu hanya ada 2 kriteria baik atau buruk, pahit atau manis. Sedangkan dalam pandangan Allah Takdir bagi setiap mukmin itu selalu baik.

“boleh jadi engkau menyukai sesuatu tapi itu belum tentu baik menurut Allah, dan boleh jadi engkau membenci sesuatu tapi itu belum tentu buruk menurut Allah”

Kekeliruan dalam menyikapi takdir ini pula yang membuat kita kerap salah dalam mengambil keputusan hidup. Tak jarang, kita sering berkeluh kesah, frustasi, atau melampiaskan dalam berbagai bentuk tindakan yang justru membuat masalah kian runyam. Atau yang lebih ekstrim lagi kita lantas menyalahkan Allah, tanpa sadar lisan kita pun berucap “Allah tidak adil”. Astaghfirullah.

Lantas bagaimana cara kita melihat setiap takdir Allah, sebagai sebuah ketetapan yang benar – benar dapat kita terima dengan penuh keridhaan.

Pertama, selalulah berprasangka baik kepada Allah.

Hidup ini tak selamanya lurus, tak pula terang benderang. Selalu saja ada liku – liku kehidupan yang mewarnai hidup kita, ada lorong – lorong gelap yang memang mesti kita lalui. Walau demikian, selalulah berprasangka baik kepada Allah. Dengan perasaan demikian akan membuat hidup kita terasa lebih ringan, tak ada perasaan khawatir yang menghatui kita, bila hati kita telah bersandar pada Sang Pemberi Ketenangan.

Maka, Berupayalah seburuk apapun takdir kita hari ini harus kita sikapi dengan berbaik sangka kepada Allah, sepahit apapun kenyataan yang kita rasakan buanglah jauh – jauh buruk sangka kepada Allah. Bila hal ini benar – benar terpatri dalam diri kita, yakinlah kita akan dapat memahami setiap pilihan takdir Allah untuk kita.

Abdullah bin mas’ud pernah berpesan “tidak ada kebaikan yang lebih berharga bagi seorang mukmin kecuali berbaik sangka kepada Allah. Demi Dzat yang tiada Tuhan selain Dia. Tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah kecuali Dia pasti akan memberikan segala prasangka tersebut, itu dikarenakan segala kebaikan ada ditanganNya”

Teruslah penuhi hidup kita dengan berbaik sangka kepada Allah, jangan ada ruang sekecil apapun dalam diri ini untuk berburuk sangka padaNya. Agar kita dapat menemui kehendakNya sejalan dengan prasangka kita kepadaNya. Berbaik sangka kepada Allah akan merubah musibah menjadi anugrah, kesedihan menjadi kegembiraan. Karena Allah mengikuti prasangka hambaNya.

Dengan berbaik sangka kepada Allah pula, musibah yang kita hadapi akan berubah dalam sesaat menjadi kekuatan hidup yang kian membuat kita lebih bijaksana dan tenang. Sebab, ada keyakinan yang begitu kuat dalam diri bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan hambaNya.

Kedua, kembalilah kepada Allah

Lari dari masalah bukanlah pilihan bijak dalam menyikapi persoalan hidup, masalah tidak akan pernah selesai dengan didiamkan. Kita harus berani mengahadapinya. Renungkanlah, Tak ada takdir yang pahit, saat iman melekat dengan sempurna di dada. Sekiranya cerita Tuhan membuatmu rapuh, bersegeralah untuk menghimpun rindu kembali padaNya.

Dengan jujur kita bisa melihat diri kita seutuhnya, ketika Allah menguji kita dengan berbagai ujian, apakah ujian yang diberikan Allah membuat kita berpaling dari jalanNya atau sebaliknya. Iman di dalam dada kitalah yang dapat menjawab.

Sepahit apapun takdir yang menghampiri, berupayalah untuk tidak berpaling dari jalanNya. Setelah kita yakin bahwa ini pilihan terbaik yang diberikan Allah, maka berpegang teguhlah di jalan Ini.

Hati yang bening serta pikiran yang jernih adalah kunci kita dalam menyelesaikan setiap persoalan hidup. Semua ini hanya dapat kita peroleh dengan mendekatkan diri kepada Allah. Di sanalah ketenangan itu bermula.

“(yaitu) orang – orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”
(QS. Ar – Ra’d :19)

Maka, berhati – hatilah dengan tipu daya dunia serta bisikan syaitan laknatullah. Bila kita salah dalam melangkah akan sangat fatal akibatnya. Allah telah memberikan keinginan serta hak bagi kita untuk memilih jalan mana yang akan kita tempuh. Setiap pilihan jalan itu tentu ada pertanggungjawabannya. Perhatikanlah rambu – rambu Allah, sepelik apapun hidup kita selama kita menjalaninya sesuai apa yang dituntunkan Allah dan RasulNya. Hidup kita pasti selamat. Maka, pilihan dan kehendak kita haruslah kita arahkan pada hal yang membawa kita kepada kebahagiaan hidup dunia dan akhirat

Satu hal lagi yang perlu kita cam kan dalam diri ini, bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hambaNya begitu saja. Takdir yang diberikanNya hanyalah untuk menguji sejauh mana kecintaan kita kepadaNya, seberapa kuat iman yang melekat didalam dada kita. Ujian – ujian itulah yang nantinya membuat kita menjadi pribadi yang tangguh, pribadi yang benar – benar teruji keimananannya. Lalu gelar kemuliaan tertinggi dalam setiap muslimpun pantas Allah berikan kepada kita, itulah yang disebut dengan hamba yang bertaqwa.

Ketika takdir tuhan tak dapat kita pahami, maka kembalilah kepadaNya. Sebab memang ada ruang gelap yang memang mesti kita pahami. Di sanalah tempat kita menyandarkan segala pengharapan kita. di sanalah energi tawaakkal, kepasrahan kita labuhkan. Akhirnya, kitapun akan mengerti takdir Allah ini.

“perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang – orang yang beratakwa ialah (seperti taman), yang mengalir sungai – sungai di bawahnya. Buahnya tak henti – henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang – orang yang bertakwa”

(QS. Ar – Ra’d :35)


ditulis oleh : Ibnu syahri Rhamadhan
Seorang anak kampung yg rentan bahaya globalisasi.Penikmat rendang.Pertualangan.Mendaki. Dan kini, menikmati pertualangannya sebagai Jurnalis di Majalah Tarbawi Banda Aceh · ibnuflp.wordpress.com

Disaat Takdir, Tak Bisa Kita Pahami Rating: 4.5 Diposkan Oleh: rhapy shulton